TagExperience

Debug Story – BAdI not implemented for appset …

It was started couple days ago. Two of my colleagues reporting issue regarding write back data on a BPC Environment Model. We’ve never have this problem before. The write back engine run smoothly on every model in every situation.

So I start to debug several spots to understand what’s going on.

The error caused by Exception cx_badi_not_implemented which generated by method,
Find BAdI implementation,
GET BADI lo_badi
FILTERS
appset_id = d_appset_id
application_id = d_appl_id
module_id = ds_wb_param-work_status-module_id.

So, my first attempt I try to by pass this procedure by change flag ds_wb_param-execute_badi into abap_false.
But, on the following step there is more validation for this exception.

My second attempt would be checking the the object of lo_badi which reference into BAdI badi_ujr_write_back. There are two implementations using this enhancement spot. I’m guessing since this implementation we need to input appset_id, application_id, & module_id so we get the right implementation.
But the write back we used comes from standard process, it doesn’t make any sense if the implementation doing something wrong with standard process. So I crossed this possibility and start to think another option.

Then I tried to debug deeper.
The next guess would be my third attempt.
I found the same exception showed on method CL_UJV_VALIDATION_MGR -> CHECK_VALIDATION.
Try to dig deeper, I found the table UJV_MODULES which for BPC Validations – Module On/Off Table.
And there is only one record for that model. *AHA

So i googled little bit then found out that TCode UJ_VALIDATION which generate the record for tables UJV_MODULES.

Then I ask permission one of my senior if he still using the validation or not. Then Turning off validation for that model. It works like a charm.
Problem Solved

for further information on how UJ_VALIDATION works or how to use it check:
UJ_VALIDATION

Awesome Strangers – Tech In Asia Jakarta 2015 at Balai Kartini

Lama ga tulis blog karena kesibukan Go-Live akhirnya muncul niat kembali buat nulis.
Kali ini saya mau buat diary (bukan diare), tentang my lately awesome day. Berkumpul dengan kalangan-kalangan sejenis saya yang passionate di bidang teknologi & bisnis.

Dua hari ini 11-12 November 2015 Tech In Asia (techinasia.com) mengadakan acara yang berlokasi di Balai Kartini, Jakarta. Tech In Asia yang sudah terkenal dengan berbagai liputannya tentang start-up di wilayah asia ini bisa dibilang sukses dalam mengumpulkan Investor, Developer, Founder, Media, & Calon User dalam satu tempat. Acara dibagi dalam dua hari, dengan menghadirkan berbagai macam pembicara yang dibagi dalam 5 stage (Main Stage, Developer Stage, Marketing Stage, Fin-Tech Stage, & Mobile Stage ). Dan semua pembicara menyampaikan keynote-nya dalam bahasa inggris. Hal ini bukan tanpa alasan, karena jika dilihat dari peserta yang datang 30% diantaranya merupakan orang asing.

Karena satu dan lain hal, saya hanya bisa datang untuk 1 hari pertama saja. Alasan cukup kuat, kerja. hhe..
Namun saya sudah cukup puas dengan berbagai hal yang saya lihat. Dan mendapat beberapa pengalaman & networking baru.
Untuk mengingat-ingat kejadian yang seru kemarin saya akan berbagi pengalaman di acara tersebut.

Begitu datang dan registrasi saya kagum dengan jumlah peserta yang datang. Di acara-acara teknologi yang biasa saya datangi kebanyakan yang datang adalah para geek developer atau mahasiswa.

Dalam satu hari tersebut saya bertemu beberapa orang yang menarik. Dengan siapa saja saya berbicara:

#1 The Guy from Criteo
Di main stage untuk acara pertama saya persebelahan dengan seorang developer dari perusahaan bernama Criteo. Nama yang asing bagi saya. Menurut penjelasanya, Criteo adalah perusahaan asal Perancis yang bergerak dibidang marketing ads. Perusahaan tersebut membuat suatu algoritma untuk merekomendasikan kepada user produk yang disarankan berdasarkan aktivitas user tersebut. Keren. Akhirnya saya bertemu dengan seorang data scientist untuk pertama kalinya.

#2 Si Bule Cewe Wangi
Kemudian sebelah saya berganti dengan seorang cewe bule. Tingginya ga jauh beda sama saya sih. Dengan pakaian kerja yang casual, sleveless, dan yang paling kerasa adalah baunya yang wangi banget. Berasa di surga. Kita cuma sesekali berinteraksi, terutama saat mengeluhkan audio yang kurang jelas dalam beberapa sesi. Saya rasa bulenya adalah seorang jurnalis. Karena dengan seksama dia mencatatkan hal hal didalam notepadnya.

#3 Tim Pantauharga
Setelah memutuskan untuk keluar dari stage saya mencoba mengelilingi stand2 startup yang ada disana. Yang menarik perhatian saya pertama kali adalah pantauharga.id
Startup yang memenangi Hackathon Merdeka 2015. Aplikasi yang dibuat untuk memantau harga barang-barang komoditas di tiap daerah. Diharapkanya semua pengguna dapat menginput dan update harga untuk tiap-tiap daerah sehingga bisa dipantau persebaran harga untuk daerah satu dengan yang lainya. Aplikasi ini menarik saya karena Papa saya merupakan pedagang komoditas di pasar tradisional. Dan beberapa tahun yang lalu saya kenalkan internet untuk pertama kalinya, beliau langsung mencoba untuk men-google hal yang serupa diaplikasikan oleh pantauharga.

#4 @dondyb, bos Infinys Indonesia, Premium Cloud Company
Oke saya suka bapak ini saat menyampaikan presentasinya di dev-stage. Gayanya yang eksentrik dan penuh semangat dalam menantang para developer yang ada untuk membuat aplikasi berbasis cloud ataupun environment semacam Amazon Web Service adalah cara marketing plus motivasi yang bagus. Dengan muka Indonesia banget beliau luwes dalam menyampaikan keynote-nya dengan selipan selipan bahasa inggris yang berkelas. Yang paling saya ingat dari keynote beliau adalah,

#5 Marketing Guy from Teamchat
I must admit, that this guy is the most interesting guy I found in entire expo. Teamchat adalah startup asal India yang menyediakan API untuk ecommerce dan Smart Robot. Kita ngobrol cukup lama bercerita tentang bagaimana kerennya teknologi yang dia punya. Bagaimana dunia ecommerce dimasa depan dengan hadirnya robot sebagai asisten. Bagaimana robot bisa menemani kita saat chatting dan menyajikan data yang kita perlukan. Sekilas saya ceritakan dia tentang hubot yang saya kenal terlebih dahulu. Setelah menjelaskan bahwa saya adalah seorang Konsultan SAP, dia langsung kaget. Usut punya usut ternyata tim mereka sedang mengembangkan interfacing chatbot mereka dengan SAP. Wow!. I never thought that would be possible. But if it’s true that would be awesome. Semacam itu kalimat response saya. Kemudian dia meminta kontak saya dan kita bertukar informasi kontak. Dan berjanji akan menghubungkan saya dengan their tech-guy, since I have a little experience in chatbot & SAP. And he’s not lying 🙂
Oh and btw, he said that the founder of this company also the founder of elance.

#6 Sales Woman from Amazon
Di booth ini saya berbincang-bincang yang teknikal. Tak dikira jika seorang sales dapat mengetahui pengetahuan hal yang teknikal untuk produknya. Karena saya berencana untuk menggunakan AWS untuk webapps saya namun saya masih belum bisa menentukan produk AWS mana yang akan dipakai. Nora, nama sales Amazon yang berasal dari Malaysia berjanji akan mengirimkan brosur produk-produknya. Sebelumnya juga Nora menjelaskan produk-produk mana yang sebaiknya digunakan sesuai dengan kebutuhan saya. Akhirnya pertanyaan yang saya simpan selama ini terjawab sudah oleh orang Amazon-nya langsung.

#7 Ibu-ibu Asisten Venture Capital
Di akhir acara hari tersebut saya sudah merencanakan untuk melihat keynote dari Bapak Menteri Pedagangan, Martin Lembong. Saya ingin melihat apa pandangan beliau mengenai industri teknologi berupa startup, apakah merupakan bisnis yang didukung oleh pemerintah atau tidak. Namun fokusnya bukan di Bapak Martin Lembong. Namun ibu-ibu sebelah saya. Jadi ceritanya ada 2 orang asing (mungkin jepang) yang saya yakini adalah executive di salah satu venture capital, dan seorang ibu-ibu, orang kepercayaan bapak-bapak venture capital tersebut. Rupa bapak-bapak ini serupa dengan Guy Kawasaki gitu lah. Makanya saya bilang orang Jepang.
Ibu-ibu ini ketus, atos, dan berbicanya sarkasm banget.
Seperti contohnya karena ada keterlambatan dari Bapak Menteri, TechInAsia mengadakan show sambil menunggu datangnya Pak Menteri dengan memanggil founder startup-startup untuk melakukan public pitching, berharap ada Venture Capitalist yang tertarik dengan produk mereka. Setiap startup yang diundang maju dan menjelaskan produknya tentang apa, ibu-ibu selalu mengomentari dengan gaya khasnya yang ketus dan kemudian diamini oleh bosnya. Seolah-olah ibu-ibu ini orang kepercayaanya banget.
Salah satunya, beliau berkomentar saat ada startup yang memiliki produk ride-sharing. Beliau langsung berkomentar ‘Well, I won’t get in the car with bunch of stranger. That’s scary’.
Lalu disaat startup tersebut bilang bahwa aplikasinya belum siap masih sekadar komunitas beliau bilang,
‘No apps, No income, only market share, why do I want to invest in your startup’.

For The Recap of TIAJKT15 go to: https://www.techinasia.com/tiajkt2015/

© 2018 Rijdz

Theme by Anders NorenUp ↑