[Ubuntu] How to Set Up Hot Spot in Ubuntu

I’ve found this simple solution works like a charm at first attempt . This solution I found at

Simple steps: Create wifi hotspot in ubuntu

  1. Disable Wifi (Uncheck Enable Wi-Fi)
  2. Go to network connection (Edit Connections…)
  3. Click “Add”
  4. Choose “Wi-Fi” and click “Create”
  5. Type in Connection name like “wifi-hotspot”
  6. Type in SSID as you wish
  7. Choose Device MAC Address from the dropdown (wlan0)
  8. Wifi Security select “WPA & WPA2 Personal” and set a password.
  9. Go to IPv4 Settings tab, from Method drop-down box select Shared to other computers.
  10. Then save and close.
  11. Open Terminal (Ctrl+Alt+T) and type in the following command with your connection name used in step 5.
    sudo gedit /etc/NetworkManager/system-connections/wifi-hotspot
  12. Find mode=infrastructure and change it to mode=ap
  13. Now check the network section where wi-fi will be connected to the created hotspot automatically. If you can not find it, go to Connect to Hidden Network… Find the connection and connect to it.

Gmail Error – Server Returned Error “Line Length Exceeded Limit: Line too Long”

I set up my office mail with gmail account for work. But one day my gmail stop fetching email from my office mail. The Gmail showing error Server Returned Error “Line Length Exceeded Limit: Line too Long”


According to!topic/gmail/nJ7tJD9GuFU, there are big size of email that will be fetched. In my case there is one email with size of 30mb.

The solution to this is simply move the big size email on source domain into folder, in my case i use default ms outlook owa to move the email into one of the folder i create.

Then in our setup gmail account (target email) go to Settings > Accounts & Import > Check Mail Now.

Voila! error message gone and your emails fetched seamlessly.

Multi Tenancy in Enterprise Resource Planning Trends

What is Multi Tenancy?

According to Gartner

Multitenancy is a reference to the mode of operation of software where multiple independent instances of one or multiple applications operate in a shared environment.

Single-Tenant vs Multi-Tenant?

> Single Tenant Model – Each customer gets a separate instance of the software which runs on a logically isolated hardware environment.
> Multi-Tenant Model – All the customers are served from the same common software instance and hardware infrastructure.

What’s the difference from today environment?

Quoting from Bill Harmer, Gooddata

In the old days, hosted systems were very common. IBM, CGI, and others allocated servers and provisioned software to run systems for customers–meaning one installation of the binary for each customer. Systems were accessed over dedicated connections, and the “server” industry boomed. Now, the public infrastructure (the Internet) is used to access those same systems. The software, in a lot of cases, is legacy on premise software that is being run in the vendor’s data centers and typically uses a VMWare, Xen or other system-level virtualization to manage the deployments. These 20-year-old hosted-style deployments are not only in use today, but are often slapped with the ubiquitous “cloud” moniker.

What does it do with ERP?

with the popularity of, cornerstone on demand, and other multi-tenants. Now we can see the use of multi-tenant everywhere. It’s not all about the trend, it’s the new era of software development where the old definition of ‘Write once and use it everywhere’ change into ‘Write once and use it for everyone’.
Everyone means multiple customer using the same instance of a software, this model would be advantage for the both sides. For Developer we only need to patch the software once for all customer. For customer we don’t need to setup the infrastructure,which means it would save hell of the money for IT implementation.

And for SAP?

You think that SAP are not prepare for this trend? i’ll give you a hint, they are well prepared.
for the last years SAP already acquiring some cloud multi-tenant across the world: -> SD & FI -> HCM -> HR & FI -> Travel Expense -> Vendor Management Systems (SD) -> SD

Those company acquired in the range of 2011-2014.

More over, John Appleby, stated that SAP HANA will support a ‘True Cloud Multi-Tenancy’.

“The Public Cloud version will use database multi-tenancy, which is quasi-multitenant from a cloud perspective. ABAP Code-lines, configuration tables etc. will not be shared yet between customers on one SAP HANA container database. This is expected to come in time, as SAP HANA supports true cloud multi-tenancy.”

With a lot of technology acquired across module by SAP, I think they are pretty serious to join the era of multi-tenant. Although i don’t know how they’re going to integrate all of their ‘New Acquire Product’ into SAP in the future. Either they have a independent module for travel expense, maybe? or they took all of the engine inside and put it into SAP-ABAP-HANA style?
It’s a lot of possibilities what they could do with those technology.
But, according to the history of their acquisition, I strongly believe that they’re going to do the right thing.
For instance, the acquisition of company name Outlooksoft in 2007, which turned out to be SAP BPC nowadays, integrated so well with SAP ecosystem. Now with SAP BPC 10, they have a new look SAPUI5’s style, the program looks more ‘SAPed’. They even create specific BAdI to accommodate the BPC engine so they could integrate logic script – ABAP – package (excel EPM) so well.
You get the idea, right?

So, How strategic is S/4HANA to SAP?

To put this into context, Hasso Plattner, SAP Chairman of the Executive Board, was quoted as saying:

“If this doesn’t work, we’re dead. Dead in the water.”

Paradoks Kepercayaan Diri

Di tulisan saya sebelumnya mengenai orang-orang yang saya temui di acara TechInAsia di akhir tulisan saya bertemu dengan ibu-ibu dari Venture Capital yang mengomentari sebuah startup yang belum matang.
‘No Apps, No Income, Only market share’, begitulah komentar ketusnya mengenai startup tersebut.
Kemudian kemarin saya menemukan tulisan di Medium yang bercerita tentang kegagalan startupnya.

5 Reasons Why My IoT Startup Failed

Mungkin itu kali ya kalo startup kita masih setengah setengah atau belum siap, terus dengan pedenya kita menghampiri investor seolah-olah bilang bahwa produknya bakalan menghasilkan keuntungan sepanjang masa.
Saya mengutip sebuah teori dari Dunning-Kruger, yang saya temukan di artikel medium tersebut.

The Dunning–Kruger effect is a cognitive bias wherein unskilled individuals suffer from illusory superiority, mistakenly assessing their ability to be much higher than is accurate.”

jika divisualisasikan,

Dunning-Kruger Effect

Mungkin Teori tersebut serupa dengan quote dari Bertrand Russel dari yang pernah saya baca di Logicomix,

The Paradox of Confidence

“One of the painful things about our time is that those who feel certainty are stupid, and those with any imagination and understanding are filled with doubt and indecision.” Bertrand Russell

Awesome Strangers – Tech In Asia Jakarta 2015 at Balai Kartini

Lama ga tulis blog karena kesibukan Go-Live akhirnya muncul niat kembali buat nulis.
Kali ini saya mau buat diary (bukan diare), tentang my lately awesome day. Berkumpul dengan kalangan-kalangan sejenis saya yang passionate di bidang teknologi & bisnis.

Dua hari ini 11-12 November 2015 Tech In Asia ( mengadakan acara yang berlokasi di Balai Kartini, Jakarta. Tech In Asia yang sudah terkenal dengan berbagai liputannya tentang start-up di wilayah asia ini bisa dibilang sukses dalam mengumpulkan Investor, Developer, Founder, Media, & Calon User dalam satu tempat. Acara dibagi dalam dua hari, dengan menghadirkan berbagai macam pembicara yang dibagi dalam 5 stage (Main Stage, Developer Stage, Marketing Stage, Fin-Tech Stage, & Mobile Stage ). Dan semua pembicara menyampaikan keynote-nya dalam bahasa inggris. Hal ini bukan tanpa alasan, karena jika dilihat dari peserta yang datang 30% diantaranya merupakan orang asing.

Karena satu dan lain hal, saya hanya bisa datang untuk 1 hari pertama saja. Alasan cukup kuat, kerja. hhe..
Namun saya sudah cukup puas dengan berbagai hal yang saya lihat. Dan mendapat beberapa pengalaman & networking baru.
Untuk mengingat-ingat kejadian yang seru kemarin saya akan berbagi pengalaman di acara tersebut.

Begitu datang dan registrasi saya kagum dengan jumlah peserta yang datang. Di acara-acara teknologi yang biasa saya datangi kebanyakan yang datang adalah para geek developer atau mahasiswa.

Dalam satu hari tersebut saya bertemu beberapa orang yang menarik. Dengan siapa saja saya berbicara:

#1 The Guy from Criteo
Di main stage untuk acara pertama saya persebelahan dengan seorang developer dari perusahaan bernama Criteo. Nama yang asing bagi saya. Menurut penjelasanya, Criteo adalah perusahaan asal Perancis yang bergerak dibidang marketing ads. Perusahaan tersebut membuat suatu algoritma untuk merekomendasikan kepada user produk yang disarankan berdasarkan aktivitas user tersebut. Keren. Akhirnya saya bertemu dengan seorang data scientist untuk pertama kalinya.

#2 Si Bule Cewe Wangi
Kemudian sebelah saya berganti dengan seorang cewe bule. Tingginya ga jauh beda sama saya sih. Dengan pakaian kerja yang casual, sleveless, dan yang paling kerasa adalah baunya yang wangi banget. Berasa di surga. Kita cuma sesekali berinteraksi, terutama saat mengeluhkan audio yang kurang jelas dalam beberapa sesi. Saya rasa bulenya adalah seorang jurnalis. Karena dengan seksama dia mencatatkan hal hal didalam notepadnya.

#3 Tim Pantauharga
Setelah memutuskan untuk keluar dari stage saya mencoba mengelilingi stand2 startup yang ada disana. Yang menarik perhatian saya pertama kali adalah
Startup yang memenangi Hackathon Merdeka 2015. Aplikasi yang dibuat untuk memantau harga barang-barang komoditas di tiap daerah. Diharapkanya semua pengguna dapat menginput dan update harga untuk tiap-tiap daerah sehingga bisa dipantau persebaran harga untuk daerah satu dengan yang lainya. Aplikasi ini menarik saya karena Papa saya merupakan pedagang komoditas di pasar tradisional. Dan beberapa tahun yang lalu saya kenalkan internet untuk pertama kalinya, beliau langsung mencoba untuk men-google hal yang serupa diaplikasikan oleh pantauharga.

#4 @dondyb, bos Infinys Indonesia, Premium Cloud Company
Oke saya suka bapak ini saat menyampaikan presentasinya di dev-stage. Gayanya yang eksentrik dan penuh semangat dalam menantang para developer yang ada untuk membuat aplikasi berbasis cloud ataupun environment semacam Amazon Web Service adalah cara marketing plus motivasi yang bagus. Dengan muka Indonesia banget beliau luwes dalam menyampaikan keynote-nya dengan selipan selipan bahasa inggris yang berkelas. Yang paling saya ingat dari keynote beliau adalah,

#5 Marketing Guy from Teamchat
I must admit, that this guy is the most interesting guy I found in entire expo. Teamchat adalah startup asal India yang menyediakan API untuk ecommerce dan Smart Robot. Kita ngobrol cukup lama bercerita tentang bagaimana kerennya teknologi yang dia punya. Bagaimana dunia ecommerce dimasa depan dengan hadirnya robot sebagai asisten. Bagaimana robot bisa menemani kita saat chatting dan menyajikan data yang kita perlukan. Sekilas saya ceritakan dia tentang hubot yang saya kenal terlebih dahulu. Setelah menjelaskan bahwa saya adalah seorang Konsultan SAP, dia langsung kaget. Usut punya usut ternyata tim mereka sedang mengembangkan interfacing chatbot mereka dengan SAP. Wow!. I never thought that would be possible. But if it’s true that would be awesome. Semacam itu kalimat response saya. Kemudian dia meminta kontak saya dan kita bertukar informasi kontak. Dan berjanji akan menghubungkan saya dengan their tech-guy, since I have a little experience in chatbot & SAP. And he’s not lying 🙂
Oh and btw, he said that the founder of this company also the founder of elance.

#6 Sales Woman from Amazon
Di booth ini saya berbincang-bincang yang teknikal. Tak dikira jika seorang sales dapat mengetahui pengetahuan hal yang teknikal untuk produknya. Karena saya berencana untuk menggunakan AWS untuk webapps saya namun saya masih belum bisa menentukan produk AWS mana yang akan dipakai. Nora, nama sales Amazon yang berasal dari Malaysia berjanji akan mengirimkan brosur produk-produknya. Sebelumnya juga Nora menjelaskan produk-produk mana yang sebaiknya digunakan sesuai dengan kebutuhan saya. Akhirnya pertanyaan yang saya simpan selama ini terjawab sudah oleh orang Amazon-nya langsung.

#7 Ibu-ibu Asisten Venture Capital
Di akhir acara hari tersebut saya sudah merencanakan untuk melihat keynote dari Bapak Menteri Pedagangan, Martin Lembong. Saya ingin melihat apa pandangan beliau mengenai industri teknologi berupa startup, apakah merupakan bisnis yang didukung oleh pemerintah atau tidak. Namun fokusnya bukan di Bapak Martin Lembong. Namun ibu-ibu sebelah saya. Jadi ceritanya ada 2 orang asing (mungkin jepang) yang saya yakini adalah executive di salah satu venture capital, dan seorang ibu-ibu, orang kepercayaan bapak-bapak venture capital tersebut. Rupa bapak-bapak ini serupa dengan Guy Kawasaki gitu lah. Makanya saya bilang orang Jepang.
Ibu-ibu ini ketus, atos, dan berbicanya sarkasm banget.
Seperti contohnya karena ada keterlambatan dari Bapak Menteri, TechInAsia mengadakan show sambil menunggu datangnya Pak Menteri dengan memanggil founder startup-startup untuk melakukan public pitching, berharap ada Venture Capitalist yang tertarik dengan produk mereka. Setiap startup yang diundang maju dan menjelaskan produknya tentang apa, ibu-ibu selalu mengomentari dengan gaya khasnya yang ketus dan kemudian diamini oleh bosnya. Seolah-olah ibu-ibu ini orang kepercayaanya banget.
Salah satunya, beliau berkomentar saat ada startup yang memiliki produk ride-sharing. Beliau langsung berkomentar ‘Well, I won’t get in the car with bunch of stranger. That’s scary’.
Lalu disaat startup tersebut bilang bahwa aplikasinya belum siap masih sekadar komunitas beliau bilang,
‘No apps, No income, only market share, why do I want to invest in your startup’.

For The Recap of TIAJKT15 go to:

Happy and Unhappy Family

Recently, I read a book, Zero to One, written by Peter Thiel. He was the founder & ex-CEO of Paypal.
The book is about how to do a great business, notes on startups and mainly talks about how to build better future.

But, right now I am not talking about the book overall. I really like about one of the chapter he was quoting from one of the book written by Leo Tolstoy, Anna Karenina

If translate it into bahasa would be like this,

“Setiap keluarga yang bahagia itu serupa,
setiap keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing.”

I love the idea how he put it on this book by saying that that quote on family is different in business world. He’s saying that,

“Business is the opposite. All happy companies are different: Each one earns a monopoly by solving a unique problem. All failed companies are the same: They failed to escape competition.”

I recommend this book if you’re looking for business book that easy to read on. It’s not like reading Intelligent Investor or Moneyball that confusing with many stranger word as non-economic person.

Nothing Good Gets Away

This is the letter from John Steinback, the writer of The Grapes of Wrath, East of Eden, and Of Mice and Men—all classics, to his son who recently feel in love.

John Steinback’s Nothing Good Gets Away

New York
November 10, 1958

Dear Thom:

We had your letter this morning. I will answer it from my point of view and of course Elaine will from hers.

First—if you are in love—that’s a good thing—that’s about the best thing that can happen to anyone. Don’t let anyone make it small or light to you.

Second—There are several kinds of love. One is a selfish, mean, grasping, egotistical thing which uses love for self-importance. This is the ugly and crippling kind. The other is an outpouring of everything good in you—of kindness and consideration and respect—not only the social respect of manners but the greater respect which is recognition of another person as unique and valuable. The first kind can make you sick and small and weak but the second can release in you strength, and courage and goodness and even wisdom you didn’t know you had.

You say this is not puppy love. If you feel so deeply—of course it isn’t puppy love.

But I don’t think you were asking me what you feel. You know better than anyone. What you wanted me to help you with is what to do about it—and that I can tell you.

Glory in it for one thing and be very glad and grateful for it.

The object of love is the best and most beautiful. Try to live up to it.

If you love someone—there is no possible harm in saying so—only you must remember that some people are very shy and sometimes the saying must take that shyness into consideration.

Girls have a way of knowing or feeling what you feel, but they usually like to hear it also.

It sometimes happens that what you feel is not returned for one reason or another—but that does not make your feeling less valuable and good.

Lastly, I know your feeling because I have it and I’m glad you have it.

We will be glad to meet Susan. She will be very welcome. But Elaine will make all such arrangements because that is her province and she will be very glad to. She knows about love too and maybe she can give you more help than I can.

And don’t worry about losing. If it is right, it happens—The main thing is not to hurry. Nothing good gets away.



[Blog] Eksperimen Jatuh Cinta

Minggu lalu, saat jadwal rutin pulang(baca:pacaran) saya kerumah untuk melepas penat setelah sebulan bekerja di ibukota. Saya sedang menghabiskan waktu dengan membaca-baca artikel didalam flipboard sebelum apel ke rumah pacar. Sampai akhirnya tiba di salah satu artikel yang menarik.

Artikel di New York Times tersebut menceritakan bahwa beberapa tahun yang lalu terdapat seorang Psikologis bernama Arthur Aron. Beliau melakukan eksperimen terhadap beberapa pasang ‘Stranger’, pria dan wanita, untuk melakukan sesi saling tanya mengenai beberapa pertanyaan yang bersifat personal. Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah di-setting untuk mempercepat keintiman antara satu sama lain. Dalam eksperimenya terdapat sepasang ‘Stranger’ yang terbukti saling jatuh cinta dan mereka menikah 6 bulan setelah experiment tersebut.

Setelah browsing lebih lanjut tentang eksperimen tersebut, ternyata memang terdapat paper tentang eksperimen jatuh cinta ini. Kalo mau membaca lebih detail tentang penelitian ini bisa baca papernya di

Kemudian di akhir-akhir paper tersebut ada 36 pertanyaan yang digunakan dalam eksperimen tersebut. Baru membaca satu dua pertanyaan Saya berfikir untuk melakukan eksperimen tersebut terhadap pacar Saya sendiri. Instead of doing this to a total stranger, I’m doing the experiment to a person that’s know me so well.
Iya betul, pacar Saya jadikan kelinci percobaan saya sendiri.
Singkat cerita, setelah menceritakan tentang penelitian ini ke pacar, dia juga tertarik untuk melakukan eksperimen tersebut. Karena saat itu kita sedang berada di Gramedia (tempat pacaran favorit kita berdua), akhirnya kita memutuskan untuk mencari tempat ngobrol. Akhirnya kita berdua menjatuhkan pilihan di Dunkin Donut yang terdapat di lantai bawahnya. Gak menjatuhkan pilihan juga sih karena yang deket cuma itu, mau keluar keluar lagi males plus ribet.

Pertanyaan-pertanyaan dalam eksperimen tersebut terdiri dari 36 pertanyaan yang dibagi menjadi 3 set. Tiap pertanyaan dijawab masing-masing, seolah-olah kita bertanya terhadap pasangan kita dan kita menjawab pertanyaan itu sendiri.

Selama di Dunkin kami berdua hanya mampu menyelesaikan satu set dari tiga set yang ada. Saya dan pacar saya mencoba menjawab bergantian siapa yang duluan menjawab. Pertama giliran saya yang menjawab dulu kemudian untuk pertanyaan kedua dia yang menjawab duluan. Setiap pertanyaan yang ada di sesi pertama masih biasa-biasa saja. Bukan biasa-biasa juga sih.
Oke saya ralat. Pertanyaan di sesi pertama ini bisa adalah jenis-jenis pertanyaan yang kebanyakan sudah kita ketahui jawabanya kalo kita sudah mengenal orang tersebut. Atau jenis-jenis pertanyaan yang sebelumnya sudah pernah kita tanyakan kepada pasangan baik secara sadar ataupun tidak.

Mengingat waktu yang hampir malam, gak malam juga sih belum jam 8, pacar saya dipingit soalnya. Akhirnya kami melanjutkan sesi selanjutnya dirumahnya.
Sesampainya dirumah, kami melanjutkan sesi ke-2. Masih dengan cara yang sama dengan menjawab bergantian seperti sesi pertama. Pertanyaan-pertanyaan di sesi ke-2 ini lebih menguras emosi dibandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan di sesi pertama. Pertanyaan-pertanyaan di sesi ke-2 ini adalah jenis-jenis pertanyaan yang mungkin jarang ditanyakan secara langsung ke orang. Namun, jawaban-jawaban dari pertanyaan di sesi kedua ini biasanya sudah kita ketahui dari curhat-curhatan yang dilakukan pasangan kita sendiri.

Saking asyiknya kita berdua melakukan eksperimen ini sudah tidak terasa waktu sudah larut malam (sekali). Dan kita hanya mampu menyelesaikan sampai sesi ke-2 saja. Mengingat kereta saya berangkat pukul 3 pagi sehingga Saya terpaksa harus pulang untuk bersiap-siap.

Duh berasa kayak laporan praktikum aja.

Kesan yang dijumpai setealh melakukan eksperimen ini adalah kita memang merasa lebih intim terhadap pasangan. Sek, kenapa intim konotasinya negatif yah..?
Oke saya ganti dengan dengan dekat.

Kesan yang dijumpai selelah melakukan eksperimen ini adalah kita merasa lebih dekat terhadap pasangan. Walaupun saya sudah mengenal pacar saya selama 10 tahun dan kita baru pacaran beberapa tahun belakang. Saya merasa bahwa masih ada hal yang belum saya ketahui tentangnya, mimpinya, cita-citanya,
masih banyak hal baru yang menarik yang belum terungkap di sosoknya,
masih ada saja hal yang menarik darinya yang belum saya kagumi.

Di sesi pertama saja saya sudah dibuat kagum oleh salah satu jawabanya mengenai mimpinya. Saya sudah tau tentang salah satu mimpinya tersebut. Namun lewat eksperimen yang kita lakukan ini dia menceritakan mimpinya secara detail, dia menceritakan dengan begitu antusias. Terlihat dari matanya, cara dia menceritakan tanpa henti, nada suaranya yang lembut. Cantik.

Yang membuat lama dari eksperimen ini adalah dari setiap pertanyaan yang telah disediakan, kemudian diteruskan dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang mengalir begitu saja. Entah itu cerita di masa lalu, pengalaman yang sudah kita alami, mengulang cerita yang sudah pernah kita ceritakan namun tidak pernah ada bosannya untuk diceritakan kembali ataupun mendengar kembali. It’s like we were on a time capsule that goes to the past and the future for every question related.
Menceritakan pengalaman, rasa, suka, cita, dan mimpi.

Sesi ke-3 akan kami lakukan sebulan lagi, saat jadwal rutin pulang (baca:pacaran) datang,hhe. Maklum kaum LDR. Berikut daftar pertanyaan yang terdapat dalam eksperimen tersebut.
Pantas saja ada sepasang stranger yang bisa jatuh cinta melalui eksperimen ini. So, falling in love is scientifically proven.
Sampai-sampai saya kepikiran untuk membuka bisnis untuk mengumpulkan para single-single kemudian memfasilitasi untuk melakukan blind date ato speed dating gitu kayak di tipi tipi dengan menyisipkan pertanyaan-pertanyaan di eksperimen ini. Jadi kalo ada investor yang berminat silahkan menghubungi .. loh??jayus.

Anyway.Silahkan mencoba.

Berikut daftar pertanyaan yang terdapat dalam eksperimen tersebut,

The 36 Questions That Lead to Love

Set I

1. Given the choice of anyone in the world, whom would you want as a dinner guest?

2. Would you like to be famous? In what way?

3. Before making a telephone call, do you ever rehearse what you are going to say? Why?

4. What would constitute a “perfect” day for you?

5. When did you last sing to yourself? To someone else?

6. If you were able to live to the age of 90 and retain either the mind or body of a 30-year-old for the last 60 years of your life, which would you want?

7. Do you have a secret hunch about how you will die?

8. Name three things you and your partner appear to have in common.

9. For what in your life do you feel most grateful?

10. If you could change anything about the way you were raised, what would it be?

11. Take four minutes and tell your partner your life story in as much detail as possible.

12. If you could wake up tomorrow having gained any one quality or ability, what would it be?

Set II

13. If a crystal ball could tell you the truth about yourself, your life, the future or anything else, what would you want to know?

14. Is there something that you’ve dreamed of doing for a long time? Why haven’t you done it?

15. What is the greatest accomplishment of your life?

16. What do you value most in a friendship?

17. What is your most treasured memory?

18. What is your most terrible memory?

19. If you knew that in one year you would die suddenly, would you change anything about the way you are now living? Why?

20. What does friendship mean to you?

21. What roles do love and affection play in your life?

22. Alternate sharing something you consider a positive characteristic of your partner. Share a total of five items.

23. How close and warm is your family? Do you feel your childhood was happier than most other people’s?

24. How do you feel about your relationship with your mother?


25. Make three true “we” statements each. For instance, “We are both in this room feeling … “

Continue reading the main storyContinue reading the main story
26. Complete this sentence: “I wish I had someone with whom I could share … “

27. If you were going to become a close friend with your partner, please share what would be important for him or her to know.

28. Tell your partner what you like about them; be very honest this time, saying things that you might not say to someone you’ve just met.

29. Share with your partner an embarrassing moment in your life.

30. When did you last cry in front of another person? By yourself?

31. Tell your partner something that you like about them already.

32. What, if anything, is too serious to be joked about?

33. If you were to die this evening with no opportunity to communicate with anyone, what would you most regret not having told someone? Why haven’t you told them yet?

34. Your house, containing everything you own, catches fire. After saving your loved ones and pets, you have time to safely make a final dash to save any one item. What would it be? Why?

35. Of all the people in your family, whose death would you find most disturbing? Why?

36. Share a personal problem and ask your partner’s advice on how he or she might handle it. Also, ask your partner to reflect back to you how you seem to be feeling about the problem you have chosen.

Continue reading

[Blog] Hidup Baru Sebagai Konsultan SAP

Ceritanya saya baru lulus kuliah nih, dan Alhamdulillah langsung diterima kerja sebagai IT Consultant-Enterprise Developer untuk SAP. Berikut overview-nya tentang SAP.

Apa itu SAP?
pasti belum banyak yang tau nih,
SAP (Systems Applications Products) adalah sebuah perusahaan software asal Jerman. Software yang dikembangkan dikategorikan sebagai Enterprise Resource Planning (ERP). ERP disini berarti sebuah software yang digunakan untuk mengontrol sumber daya yang dimiliki perusahaan. SAP memiliki keunggulan dalam integrasi modul-modul yang dimiliki.

Modul modul apa saja yang dimiliki SAP ?

SAP Module

Lalu, kenapa disebut konsultan?
Mengingat SAP hanyalah sebuah system, tugas kita adalah menyesuaikan system agar berjalan sesuai dengan bisnis proses tiap-tiap perusahaan. Tiap-tiap perusahaan memiliki bisnis proses yang berbeda-beda. Dari mulai urusan dengan produksi, vendor, bank, sampai ke user, tiap perusahaan memiliki treatment yang berbeda-beda.

Apa saja jobdesc dari seorang konsultan SAP?
Dalam prakteknya, konsultan SAP dibagi menjadi 2, Functional dan Technical. Seorang konsultan functional SAP biasanya memiliki spesialisasi dalam satu modul SAP. Functional ini yang berhubungan dengan user. Sehingga tugas utamanya mereka adalah menterjemahkan bisnis proses dari tiap2 divisi user ke modulnya masing2.
Sedangkan technical sendiri dibagi lagi menjadi ABAP dan Basis. ABAP (Advance Business Application Programming) adalah bahasa pemrograman khusus SAP. Kebetulan saya masih ABAP-er newbie nih. Tugas utama dari seorang ABAP-er adalah menterjemahkan keinginan user yang sudah dipahami oleh functional menjadi program. Sedangkan Basis adalah ranah teknikal yang mengurusi backend SAP.

Jadi masnya Programmer SAP atau Konsultan SAP sih?
Jadi masih banyak missconception disini, istilah programmer SAP lebih cocok untuk mendefinisikan programmer yang mendevelop system SAP di markas SAP di Waldorf,Jerman sana.
ABAP-er adalah programmer yang mengcustomize system SAP sesuai dengan permintaan user. Beberapa program, table, function, module standard dari SAP sudah di develop oleh tim dari SAP sono, dan kita tinggal make beberapa fungsi fungsi standard yang telah tersedia. Fyi aja, program-program yang telah tersedia dari SAP ini jumlahnya ribuan sehingga sebenarnya kita tidak perlu membuat program dari nol. Tinggal pintar-pintar saja mencari program yang ada dan mencari fungsi yang hampir serupa kemudian di customize sesuai kebutuhan user.
Maka dari itu saya lebih nyaman dengan istilah Enterprise Developer – IT Consultant.

Bedanya Enterprise Developer sama programmer yang lain apa dong?
dulu saya pernah baca artikel bagus di The Next Web,
sedikit curcol, dulu jaman kuliah saya bercita-cita sebagai Alpha Developer, karena waktu itu smartphone baru awal2 muncul dan kelihatanya keren bikin apps yang bisa dipake tiap-tiap hari oleh semua anak muda. Namun apa daya startup-startup seperti itu belum bisa menjanjikan dan belum dapat kesempatan untuk mencoba. Namun, saya bersyukur bisa terdampar di dunia SAP.

Lalu kerjaan sehari-hari dari seorang ABAP-er apa dong?
Gak jauh beda dengan programmer lainya, namun disini kita harus berkomunikasi secara intens dengan sang functional untuk merealisasikan spec buatan mereka yang sesuai dengan permintaan user. Tugas ABAP-er secara basic mengerjakan RICEF (Report, Interface, Conversion, Enhancement, Forms). Semisal membuat form-form untuk dokumen dari perusahaan sampai dengan report-report yang dibaca oleh direksi tentang status resource mereka, menghubungkan SAP dengan environment diluar ABAP (3rd party), dll.
Sama seperti tugas engineer lainya lah, membuat apa yang belum ada menjadi mungkin dan bisa dilakukan.

Hello world!

Blog ini merupakan blog pribadi dari Rijdz, Who am i? calon scientist, engineer, programmer, & developer. Buset,, keliatan nya keren semua yah kalo di bahasa inggris-in. Padahal itu ditulis semua gara-gara sang penulis masih bimbang jenjang karir mana yang akan dipilih. Wajar lah namanya juga masih remaja, masa pencarian jati diri. Rencananya blog ini akan diisi oleh pemikiran dan cerita baik yang serius maupun konyol hasil pengalaman dari Rijdz. Sekalian bikin jurnal, diary, logbook,  atau apapun namanya lahbaik teknikal atau non-teknikal yak. Agar biar supaya sehingga penulis punya catatan cerita hidup yang dapat di-share ke orang lain.


Why is it matter (for me, especially)? Sudah berapakah momen-momen kehidupan yang telah anda alami terlewat begitu saja, hanya sekilas terjadi dan anda lupakan begitu saja? Lalu apa essence dari momen tersebut hadir dalam hidup anda? Hanya tersimpan didalam otak anda sendiri dan menunggu usia menggerogoti daya ingat anda, satu per satu momen tersebut hilang. Tak ubah nya dengan lifecycle dari digital storage device yang anda miliki seperti harddisk ataupun Solid State Disk (SSD), yang hanya akan bertahan hidup setelah melakukan proses write/erase beberapa kali. Ataukah momen tersebut secara tidak sengaja dilupakan oleh otak anda. Anda terbangun dari tidur lalu anda lupa apa yang telah terjadi beberapa momen-momen yang mungkin penting bagi anda di suatu hari kelak. Mungkin hanya akan ingat momen kejadianya secara garis besar, namun detailnya? who knows? Hal ini dapat dianalogikan dengan cara kerja Random Access Memory (RAM) yang memiliki sifat volatile. Volatile berarti memory masih akan menyimpan data selama masih ada daya yang dialirkan, begitu aliran daya open, data terhapus dari system. Analogi-analogi yang disebut diatas gak berlaku buat orang-orang yang punya kemampuan eidetic memories. Namun, dibalik segala alasan-alasan yang terkesan ilmiah dan serius diatas, sebenarnya saya ingin memiliki bahan cerita untuk diceritakan kepada teman, rekan, ataupun stranger yang baru ketemu dijalan.

Pernah ga sih ngerasaain kita dalam kondisi awkward saat berbincang-bincang dan kita kehabisan bahan obrolan? Basi juga kan kalo kita obrolin bahan cerita yang kita ceritakan terus ke orang-orang. Dan akhirnya lawan bicara kita ngomong, “ketoke koe wes pernah cerito kui e?” (baca: “kayaknya lo udah pernah cerita itu deh?”). Atau anda sendiri yang bilang ini ke lawan bicara anda, “eh, aku wes tau cerito iki neng koe durung sih?” (baca: “eh, aku udah pernah cerita ini belum sih?”). Hal itu dikarenakan karena anda hanya mempunyai beberapa cerita andalan yang anda terus-menerus anda ceritakan ke orang. Boring kan? That’s why, walaupun telat sadar betapa pentingnya punya diary akhirnya saya mencoba untuk menulis apapun kedalam blog ini. So, just sit back & relax for another post coming up (kayak blog ini rame aja, hahahahahikshiks *ketawanangis)


© 2018 Rijdz

Theme by Anders NorenUp ↑