Minggu lalu, saat jadwal rutin pulang(baca:pacaran) saya kerumah untuk melepas penat setelah sebulan bekerja di ibukota. Saya sedang menghabiskan waktu dengan membaca-baca artikel didalam flipboard sebelum apel ke rumah pacar. Sampai akhirnya tiba di salah satu artikel yang menarik.

http://www.nytimes.com/2015/01/11/fashion/modern-love-to-fall-in-love-with-anyone-do-this.html

Artikel di New York Times tersebut menceritakan bahwa beberapa tahun yang lalu terdapat seorang Psikologis bernama Arthur Aron. Beliau melakukan eksperimen terhadap beberapa pasang ‘Stranger’, pria dan wanita, untuk melakukan sesi saling tanya mengenai beberapa pertanyaan yang bersifat personal. Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah di-setting untuk mempercepat keintiman antara satu sama lain. Dalam eksperimenya terdapat sepasang ‘Stranger’ yang terbukti saling jatuh cinta dan mereka menikah 6 bulan setelah experiment tersebut.

Setelah browsing lebih lanjut tentang eksperimen tersebut, ternyata memang terdapat paper tentang eksperimen jatuh cinta ini. Kalo mau membaca lebih detail tentang penelitian ini bisa baca papernya di http://www.stafforini.com/txt/Aron%20et%20al%20-%20The%20experimental%20generation%20of%20interpersonal%20closeness.pdf

Kemudian di akhir-akhir paper tersebut ada 36 pertanyaan yang digunakan dalam eksperimen tersebut. Baru membaca satu dua pertanyaan Saya berfikir untuk melakukan eksperimen tersebut terhadap pacar Saya sendiri. Instead of doing this to a total stranger, I’m doing the experiment to a person that’s know me so well.
Iya betul, pacar Saya jadikan kelinci percobaan saya sendiri.
Singkat cerita, setelah menceritakan tentang penelitian ini ke pacar, dia juga tertarik untuk melakukan eksperimen tersebut. Karena saat itu kita sedang berada di Gramedia (tempat pacaran favorit kita berdua), akhirnya kita memutuskan untuk mencari tempat ngobrol. Akhirnya kita berdua menjatuhkan pilihan di Dunkin Donut yang terdapat di lantai bawahnya. Gak menjatuhkan pilihan juga sih karena yang deket cuma itu, mau keluar keluar lagi males plus ribet.

Pertanyaan-pertanyaan dalam eksperimen tersebut terdiri dari 36 pertanyaan yang dibagi menjadi 3 set. Tiap pertanyaan dijawab masing-masing, seolah-olah kita bertanya terhadap pasangan kita dan kita menjawab pertanyaan itu sendiri.

Selama di Dunkin kami berdua hanya mampu menyelesaikan satu set dari tiga set yang ada. Saya dan pacar saya mencoba menjawab bergantian siapa yang duluan menjawab. Pertama giliran saya yang menjawab dulu kemudian untuk pertanyaan kedua dia yang menjawab duluan. Setiap pertanyaan yang ada di sesi pertama masih biasa-biasa saja. Bukan biasa-biasa juga sih.
Oke saya ralat. Pertanyaan di sesi pertama ini bisa adalah jenis-jenis pertanyaan yang kebanyakan sudah kita ketahui jawabanya kalo kita sudah mengenal orang tersebut. Atau jenis-jenis pertanyaan yang sebelumnya sudah pernah kita tanyakan kepada pasangan baik secara sadar ataupun tidak.

Mengingat waktu yang hampir malam, gak malam juga sih belum jam 8, pacar saya dipingit soalnya. Akhirnya kami melanjutkan sesi selanjutnya dirumahnya.
Sesampainya dirumah, kami melanjutkan sesi ke-2. Masih dengan cara yang sama dengan menjawab bergantian seperti sesi pertama. Pertanyaan-pertanyaan di sesi ke-2 ini lebih menguras emosi dibandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan di sesi pertama. Pertanyaan-pertanyaan di sesi ke-2 ini adalah jenis-jenis pertanyaan yang mungkin jarang ditanyakan secara langsung ke orang. Namun, jawaban-jawaban dari pertanyaan di sesi kedua ini biasanya sudah kita ketahui dari curhat-curhatan yang dilakukan pasangan kita sendiri.

Saking asyiknya kita berdua melakukan eksperimen ini sudah tidak terasa waktu sudah larut malam (sekali). Dan kita hanya mampu menyelesaikan sampai sesi ke-2 saja. Mengingat kereta saya berangkat pukul 3 pagi sehingga Saya terpaksa harus pulang untuk bersiap-siap.

Kesimpulan.
Duh berasa kayak laporan praktikum aja.

Kesan yang dijumpai setealh melakukan eksperimen ini adalah kita memang merasa lebih intim terhadap pasangan. Sek, kenapa intim konotasinya negatif yah..?
Oke saya ganti dengan dengan dekat.

Kesan yang dijumpai selelah melakukan eksperimen ini adalah kita merasa lebih dekat terhadap pasangan. Walaupun saya sudah mengenal pacar saya selama 10 tahun dan kita baru pacaran beberapa tahun belakang. Saya merasa bahwa masih ada hal yang belum saya ketahui tentangnya, mimpinya, cita-citanya,
masih banyak hal baru yang menarik yang belum terungkap di sosoknya,
masih ada saja hal yang menarik darinya yang belum saya kagumi.

Di sesi pertama saja saya sudah dibuat kagum oleh salah satu jawabanya mengenai mimpinya. Saya sudah tau tentang salah satu mimpinya tersebut. Namun lewat eksperimen yang kita lakukan ini dia menceritakan mimpinya secara detail, dia menceritakan dengan begitu antusias. Terlihat dari matanya, cara dia menceritakan tanpa henti, nada suaranya yang lembut. Cantik.

Yang membuat lama dari eksperimen ini adalah dari setiap pertanyaan yang telah disediakan, kemudian diteruskan dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang mengalir begitu saja. Entah itu cerita di masa lalu, pengalaman yang sudah kita alami, mengulang cerita yang sudah pernah kita ceritakan namun tidak pernah ada bosannya untuk diceritakan kembali ataupun mendengar kembali. It’s like we were on a time capsule that goes to the past and the future for every question related.
Menceritakan pengalaman, rasa, suka, cita, dan mimpi.

Sesi ke-3 akan kami lakukan sebulan lagi, saat jadwal rutin pulang (baca:pacaran) datang,hhe. Maklum kaum LDR. Berikut daftar pertanyaan yang terdapat dalam eksperimen tersebut.
Pantas saja ada sepasang stranger yang bisa jatuh cinta melalui eksperimen ini. So, falling in love is scientifically proven.
Sampai-sampai saya kepikiran untuk membuka bisnis untuk mengumpulkan para single-single kemudian memfasilitasi untuk melakukan blind date ato speed dating gitu kayak di tipi tipi dengan menyisipkan pertanyaan-pertanyaan di eksperimen ini. Jadi kalo ada investor yang berminat silahkan menghubungi .. loh??jayus.

Anyway.Silahkan mencoba.

Berikut daftar pertanyaan yang terdapat dalam eksperimen tersebut,

The 36 Questions That Lead to Love

Set I

1. Given the choice of anyone in the world, whom would you want as a dinner guest?

2. Would you like to be famous? In what way?

3. Before making a telephone call, do you ever rehearse what you are going to say? Why?

4. What would constitute a “perfect” day for you?

5. When did you last sing to yourself? To someone else?

6. If you were able to live to the age of 90 and retain either the mind or body of a 30-year-old for the last 60 years of your life, which would you want?

7. Do you have a secret hunch about how you will die?

8. Name three things you and your partner appear to have in common.

9. For what in your life do you feel most grateful?

10. If you could change anything about the way you were raised, what would it be?

11. Take four minutes and tell your partner your life story in as much detail as possible.

12. If you could wake up tomorrow having gained any one quality or ability, what would it be?

Set II

13. If a crystal ball could tell you the truth about yourself, your life, the future or anything else, what would you want to know?

14. Is there something that you’ve dreamed of doing for a long time? Why haven’t you done it?

15. What is the greatest accomplishment of your life?

16. What do you value most in a friendship?

17. What is your most treasured memory?

18. What is your most terrible memory?

19. If you knew that in one year you would die suddenly, would you change anything about the way you are now living? Why?

20. What does friendship mean to you?

21. What roles do love and affection play in your life?

22. Alternate sharing something you consider a positive characteristic of your partner. Share a total of five items.

23. How close and warm is your family? Do you feel your childhood was happier than most other people’s?

24. How do you feel about your relationship with your mother?

Set III

25. Make three true “we” statements each. For instance, “We are both in this room feeling … “

Continue reading the main storyContinue reading the main story
26. Complete this sentence: “I wish I had someone with whom I could share … “

27. If you were going to become a close friend with your partner, please share what would be important for him or her to know.

28. Tell your partner what you like about them; be very honest this time, saying things that you might not say to someone you’ve just met.

29. Share with your partner an embarrassing moment in your life.

30. When did you last cry in front of another person? By yourself?

31. Tell your partner something that you like about them already.

32. What, if anything, is too serious to be joked about?

33. If you were to die this evening with no opportunity to communicate with anyone, what would you most regret not having told someone? Why haven’t you told them yet?

34. Your house, containing everything you own, catches fire. After saving your loved ones and pets, you have time to safely make a final dash to save any one item. What would it be? Why?

35. Of all the people in your family, whose death would you find most disturbing? Why?

36. Share a personal problem and ask your partner’s advice on how he or she might handle it. Also, ask your partner to reflect back to you how you seem to be feeling about the problem you have chosen.